Bank Sentral kita sudah turut campur tangan pak di pasar uang dengan jual dollar. Jadi untuk kurs kita masih terkendali. Ini menjadi tugas bank sentral kita untuk menjaga inflasi agar tidak terlalu volatile dengan cara menjaga stabilitas kurs kita. As long as cadangan devisa yang dimiliki bank sentral masih cukup untuk memenuhih demand dollar, I think kurs kita masih bisa dalam batas kewajaran. Lain halnya dengan pasar modal kita yang sepengetahuan saya tidak ada campur tangan pemerintah jika terjadi crash seperti ini. Jadi bakalan volatile kalo diserang badai
Regards
Hadi
Eka Suwandana <esuwandan(*)yahoo.com> wrote:
Nggak ada secara fundamental kejadian yg sama di Indonesia. Kita nggak bisa beli portofolio Sub Prime US. dan di kita tidak ada kredit sub prime (tingkat kredit dgn bunga lebih tinggi utk debitor rating rendah dicicil tiap hari).
Cuma memang uang selalu mengalir ke tempat yg murah (murah dan aman/stabil), so kalo DJ sudah murah kita harus lebih murah. Untungnya sudah dipotong The Fed discount rate, tinggal tunggu rate yg beneran.
Saham bakal rebound senin dan selanjutnya Sideways lama, riak2 kecil masih ada cuma gelombang besar hampir nggak ada kecuali the fed dalam meeting bulan september dan Desember nggak turunin suku bunganya.
Yg saya bingung ihsg sudah jatuh 20% lebih tapi rupiah masih kuat yg dibawah 10000. Biasanya jeblok main dikisaran 10000?
> Yg jago fundamentalis, bagaimana kabarnya, kog pada
> hilang dari milis ini. Tolong pencerahannya,
> tenangkan
> pasar dengan argumentasinya.
> Padahal yg menjadi pemicu di AS sana, DOW cuma
> turun 1,6 %, BEJ turun hampir 4 % ada apa ya.
> Mungkin di AS. Eropa, Aussie,Canada, Japan
> pemerintah
> (Bank Central ) pada intervensi milyaran dollar,
> kita ngak
> kali ya? ngak punya duit lebih.
>
>
> ---------------------------------
> Looking for a deal? Find great prices on flights and
> hotels with Yahoo! FareChase.
|
|